(Cinta sejati tidak lahir karena ingin memiliki, dia ada karena untuk memberi…..memberikan yang terbaik. Itulah ajaran dari Sang Maha Cinta.)
Dia, ayam jago dengklang itu, dulunya pas kecil lahirnya kecenthet. Barangkali karena induknya terlalu banyak anak sehingga telurnya tidak dapat dierami sempurna. Sebuah produk gagal Tuhan.
Ayamku banyak, memelihara jago memang kesukaanku sejak kecil. Bermacam-macam jago ada: pelung, bangkok, jawa, kedu dari yang jalunya panjang, baturante, yang jagoan dan turunan juara. Semuanya mahal-mahal. Yang paling mahal pernah ditawar sama pejabat di sini dengan harga 10 juta. Tidak aku kasih, masih muda dengan katuranggan yang sempurna. Dan, karena memang mau saya rah turunannya. Aku lebih suka piara jago daripada babon. Walaupun, di kandang penangkaran ada satu dua babon yang sudah disortir untuk bisa dijadikan indukan.
Dari ayam-ayam itu lah aku bisa makan dan punya rumah sederhana. Ya memang nggak pernah kaya dari ayam, tapi mau apa lagi. Setiap pagi mereka harus dijemur, dimandikan, dikasih fuur dengan konsentrat tinggi, kalau ada yang sakit ya disontik, atau dikasih kapsul macam Vita Chick ataupun Medisep, dan kalau musim penyakit harus diberi vaksin semua.
Dengklang
Dari semua ayam itu ya cuma si dengklang itu yang pengen saya enyahkan. Heran, ayam itu dari kecil nggak niat saya piara. Dia tidur, ngandang di pohon, makan juga nggak saya kasih dan dia cari sendiri. Singkatnya sebenarnya memang tidak saya pelihara. tapi herannya dia nggak mau pergi dari sini. Tiap ada yang lain makan dia ikut nyeker-nyeker cari sisa-sisa makanan. Tiap digusah balik lagi dan balik lagi. Pernah saya bandem watu atau saya plintheng, tapi mesti mleset terus. Dari kecil, dere sampai akhirnya dia gede juga. Nggak bosen-bosen dia. Sudah nggak tak anggep kok masih mau di sini.
Setiap saya jengkel karena dia selalu cari-cari kesempatan untuk mencuri makanan, ataupun rayahan dengan ayam-ayam lain yang saya sayangi, saya gusah dia. Diusir, ataupun dilempar kerikil. Dan dia pergi, tapi kalau saya lengah, dia datang. Begitu seterusnya.
Nggak terasa, kok ternyata dengklang yang dulu kecil itu sekarang sudah gedhe juga. Tapi seringkali dia dipendhel sama jago-jagoku yang sudah gedhe dan giras. Dia itu jirih. Setiap muncul ya selalu saja jadi kejaran jago-jago yang ada untuk dipendhel.
Pertarungan
Entah kenapa hari itu seperti hari sialku. Aku tidak menduga bahwa hari ini akan menjadi hari yang paling kusesali dalam hidupku.
Heran, sore ini, si dhengklang ini nantang sama jagoku yang paling mahal. Kenapa mahal, karena memang jagoan dan berasal dari bibit yang bagus. Namanya juga Jagoan. Kurawat baik dan sudah di-training dengan jago lainnya gak pernah kalah.
Maka kubiarkan saja si dhengklang tadi nantang angas sama si Jagoan. Begitu dekat, kubuka kandang jagoan. Dan, dimulailah pertarungan itu.
Di luar dugaanku, si dengklang ternyata menyerang membabi buta. Seolah-olah dia sudah benar-benar menghadapi mati dan ngabruk nggak karuan. Gila! Si jagoan sepertinya malah ciut dan kepalanya dihantam habis-habisan. Tidak butuh waktu lama si Jagoan keok dan mundur dari gelanggang menuju ke aku. Dan aku tangkap. Tetapi…oh..terlambat. Dengklang terus mengejar dan menghajarnya. Bukan hanya keok, tetapi si jagoan juga mati. Gila! Tanpa darah mengucur!
Giliran aku yang gelap mata. Dengklang!!!! Aku lempat dia sejadi-jadinya dengan batu segenggaman.
BRAKK!!!! Kena pas kepalanya. Dan dia seperti tak sadarkan diri. Selama beberapa saat dia berkaok-kaok, kepalanya klengsreh di samping kiri dengan mata merem-melek menahan sakit, serta berlari berputar-putar sambil seperti terbang-terbang gitu. Hal itu kubiarkan beberapa saat. Sampai akhirnya aku masih jengkel. Dalam keadaan seperti ayam klenger aku tendang sekuatnya sampai terlempar tujuh meter-an.
Kali ini Dengklang bukan saja sakit badannya, tetapi pasti sakit hatinya. Dengan wajah sangat-sangat takut dan kaki, kepala serta badan yang entah
bagaimana rasanya, dia memandangku dengan wajah sedih kemudian cepat-cepat menghilang di semak-semak.
Aku tidak perduli lagi. Entah mau jadi apa dia. Mau mampus atau mau minggat terserah. TInggal aku sendiri yang sedih merawat bangkai si Jagoan.
Malam Hari
Entah darimana datangnya asap ini, tetapi yang jelas aku sudah terlambat. AKu bangkit dari tidur malam semenjak peristiwa tendangan untuk dengklang. Tetapi kepanikanku terlambat….
Api sudah melalap semua yang aku punya: rumah, kandang dan ayam-ayam yang mungkin sudah berkaok-kaok dan aku lelap tertidur. Mereka sudah gosong semua. Usaha yang kulakukan seolah sia-sia. Sungai memang dekat, tetapi jarak rumah yang agak jauh dari tetangga dan juga hanya aku seorang yang memegang ember untuk memindahkan air ke api…sungguh tidak mungkin….
Diantara suara gemeretek api yang mulai kecil karena kenyang melalap arang-arang dari bangunanku, aku terduduk di pinggiran rumah. Blank..
Saat itulah, saat aku sendiri, entah kenapa…Dengklang datang dan sudah duduk di sampingku sambil berkokok-kokok dengan nada suara santai. Seolah dia berusaha menghiburku dengan kejadian ini. Seolah dia lupa bahwa beberapa jam tadi dia sudah aku siksa. Pandangannya ringan menatapku dan sekitarku. Tidak ada ketakutan, dia duduk hanya berjarak 5 centi dari aku. Aku seolah mendapat tamparan keras dari Tuhan.